MATABLITAR.COM – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kuliah tamu bertema Pendampingan Komunikasi Anak dengan Keterlambatan Bahasa dan Bicara pada Rabu (7/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 3 Kampus 1 UNU Blitar ini bertujuan membekali mahasiswa calon guru PAUD dengan pemahaman yang tepat terkait perkembangan komunikasi anak usia dini.

Kuliah tamu tersebut menghadirkan terapis wicara RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, Hendra Ginantaka, S.Tr.Kes. Dalam pemaparannya, Hendra menekankan bahwa keterlambatan bahasa dan bicara masih sering disalahpahami, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

“Keterlambatan bahasa dan bicara bukan karena anak malas berbicara. Sekitar 5–8 persen anak usia prasekolah mengalaminya. Jika tidak ditangani sejak dini, dampaknya bisa berlanjut pada kesulitan akademik dan sosial,” ujar Hendra.

Ia menjelaskan bahwa bahasa (language) dan bicara (speech) merupakan dua hal yang berbeda. Bahasa berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengekspresikan makna, sementara bicara berhubungan dengan kejelasan artikulasi dalam pengucapan kata. Anak bisa mengalami keterlambatan pada salah satu aspek atau keduanya sekaligus.

Menurut Hendra, di kelas PAUD masih banyak miskonsepsi, seperti anggapan bahwa anak yang diam berarti tidak paham atau harus dipaksa agar mau berbicara. Pendekatan tersebut justru dinilai dapat menghambat perkembangan komunikasi anak.

“Fondasi pendampingan komunikasi adalah rasa aman dan interaksi yang hangat. Bahasa tumbuh dari relasi, bukan dari paksaan,” jelasnya.

Dalam praktik pembelajaran, ia mendorong guru PAUD untuk berperan sebagai pendamping komunikasi, bukan penguji. Prinsip follow the child’s lead atau mengikuti minat anak disebut menjadi kunci stimulasi bahasa yang efektif.

Guru dianjurkan mengurangi pertanyaan langsung, memberikan contoh bahasa yang benar, serta memberi waktu tunggu agar anak dapat merespons secara alami.

Ketua Program Studi PIAUD UNU Blitar, Dessy Farantika, M.Pd., mengatakan kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya prodi dalam menguatkan keterkaitan antara teori dan praktik lapangan bagi mahasiswa.

“Mahasiswa PIAUD perlu memiliki pemahaman yang benar agar tidak keliru dalam mendampingi anak, khususnya anak yang mengalami keterlambatan bahasa dan bicara. Ini menjadi bekal penting ketika mereka terjun langsung di satuan PAUD,” ujar Dessy.

Ia berharap, melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep perkembangan komunikasi anak, tetapi juga memiliki sensitivitas dan sikap profesional dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, hangat, dan inklusif.

Melalui kuliah tamu tersebut, PIAUD UNU Blitar menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon pendidik anak usia dini yang kompeten dan responsif terhadap isu-isu perkembangan anak, sekaligus mendukung layanan pendidikan PAUD yang ramah anak. (Wj/red)