MATABLITAR.COM – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kegiatan Ngaji Aswaja Ramadhan 1447 H yang diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan di Aula Lantai 3 Kampus I UNU Blitar, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di lingkungan civitas akademika.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Ngaji Aswaja: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban” dengan menghadirkan Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur sebagai narasumber.
Tema ini dimaknai sebagai upaya menjaga dan melestarikan tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama sekaligus memperkuat nilai-nilai Islam yang moderat dan berakar pada kearifan lokal.
Ketua panitia kegiatan, Wijianto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Ngaji Aswaja Ramadhan menjadi bagian dari komitmen UNU Blitar dalam menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah kepada civitas akademika, khususnya mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa kuliah di perguruan tinggi Nahdlatul Ulama tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan tradisi keilmuan yang memiliki sanad kepada para ulama.
“Di UNU Blitar, kuliah bukan sekadar mengejar gelar sarjana, tetapi juga menyambungkan diri dengan tradisi keilmuan para ulama. Dengan memegang teguh Aswaja An-Nahdliyah, kita terhubung dengan sanad ilmu yang panjang hingga kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I UNU Blitar, Dr. Muhamad Fatih, M.Pd, dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia berharap forum Ngaji Aswaja dapat memperkuat pemahaman keislaman mahasiswa sekaligus menjaga tradisi keilmuan ulama di lingkungan kampus. Setelah sambutan tersebut, ia secara resmi membuka kegiatan Ngaji Aswaja Ramadhan 1447 H.
Dalam pemaparannya, Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur menjelaskan bahwa berbagai tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama bukanlah praktik tanpa dasar.
Tradisi tersebut memiliki landasan dalil dalam syariat Islam serta menjadi cara para ulama menyampaikan nilai-nilai agama kepada masyarakat.
Ia mencontohkan tradisi tingkeban, yaitu doa bersama bagi ibu yang sedang mengandung dengan harapan agar anak yang akan lahir menjadi pribadi yang saleh, berilmu, dan ahli ibadah.
Selain itu, ia juga menjelaskan praktik mengumandangkan adzan di telinga bayi yang baru lahir sebagai bentuk doa agar kalimat tauhid menjadi suara pertama yang didengar seorang anak ketika lahir ke dunia.
Menurutnya, tradisi-tradisi tersebut pada dasarnya merupakan bentuk pengamalan ajaran Islam yang dikemas dalam budaya masyarakat namun tetap memiliki dasar syariat.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para peserta tampak antusias mengikuti diskusi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait praktik amaliah yang berkembang di masyarakat serta dalil yang melandasinya.
Melalui kegiatan ini, UNU Blitar berharap tradisi mengaji dan diskusi keilmuan terus tumbuh di lingkungan kampus sekaligus memperkuat pemahaman Aswaja di kalangan mahasiswa dan civitas akademika. (Wj/red)



Tinggalkan Balasan