MATABLITAR.COM – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar diskusi akademik bersama akademisi Kobe University, Jepang, Saki Maeta, Senin (19/1/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar UNU Blitar dalam mendorong internasionalisasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam Nusantara.
Diskusi yang berlangsung di Smart Class lantai II Kampus I UNU Blitar tersebut diikuti oleh Dekan, Wakil Dekan, para ketua program studi, serta perwakilan mahasiswa dari masing-masing himpunan program studi dilingkungan FAI UNU Blitar.
Forum ini dirancang sebagai ruang dialog lintas budaya untuk mempertemukan pengalaman pendidikan Jepang dengan konteks pendidikan tinggi Indonesia, khususnya di lingkungan PTNU.
Dekan Fakultas Agama Islam UNU Blitar, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., menjelaskan bahwa dialog internasional semacam ini penting bagi PTNU dalam merespons dinamika global tanpa kehilangan jati diri.
Menurutnya, Islam Nusantara sebagai paradigma keilmuan NU memiliki karakter moderat, terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kultur pendidikan Jepang dan Indonesia memang berbeda. Jepang menekankan disiplin, kerja keras, dan sistem yang terstruktur. Sementara Indonesia, termasuk di PTNU, memiliki kekuatan pada nilai budaya lokal, keberagaman, dan kearifan sosial. Perbedaan ini justru menjadi ruang dialog yang produktif,” ujar Arif.
Ia menegaskan bahwa internasionalisasi PTNU tidak dimaknai sebagai meniru sepenuhnya model luar, melainkan membangun kolaborasi global dengan tetap menjadikan nilai-nilai Islam Nusantara sebagai fondasi pengembangan keilmuan dan karakter mahasiswa.
Saki Maeta dalam paparannya menyampaikan gambaran umum sistem pendidikan tinggi di Jepang. Ia menjelaskan bahwa jenjang pendidikan di Jepang secara struktural tidak jauh berbeda dengan Indonesia, yakni sarjana selama empat tahun, magister dua tahun, dan doktoral tiga tahun. Namun, untuk menjadi dosen atau peneliti di Jepang, kualifikasi doktor merupakan syarat utama.
Selain itu, Saki menekankan pentingnya pendidikan dasar dalam membentuk karakter peserta didik Jepang. Menurutnya, nilai disiplin dan tanggung jawab yang ditanamkan sejak dini menjadi fondasi kuat hingga jenjang pendidikan tinggi.
Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) FAI UNU Blitar, Moh. Mirwan Hariri, M.I.Kom., menilai diskusi tersebut relevan dengan agenda internasionalisasi PTNU. Ia mendorong mahasiswa NU untuk aktif membangun jejaring global melalui program pertukaran pelajar, kolaborasi riset internasional, serta pemanfaatan platform digital.
“Mahasiswa PTNU harus mampu tampil sebagai duta Islam Nusantara di ruang global: terbuka, moderat, dan berkarakter, tanpa kehilangan identitas ke-NU-an,” ujar Mirwan.
Melalui diskusi ini, FAI UNU Blitar berharap sivitas akademika semakin siap menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat peran PTNU sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, berakar pada tradisi lokal, dan terhubung dengan dunia internasional. (Wj/red)



Tinggalkan Balasan