MATABLITAR.COM – Momentum peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 menjadi sarana mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Islam (AMI) Blitar Raya untuk menyuarakan kritik sosial secara terbuka.

Sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus menggelar aksi pemasangan spanduk di sejumlah titik strategis di wilayah Blitar Raya pada Kamis malam, 30 April 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk refleksi sekaligus peringatan terhadap kondisi kesejahteraan buruh yang dinilai masih jauh dari kata layak.

Spanduk-spanduk berisi kritik dan tuntutan tampak terpasang di jalur utama hingga pusat keramaian di Blitar Raya.

Aliansi Mahasiswa Islam (AMI) Blitar Raya sendiri merupakan gabungan lintas organisasi mahasiswa, di antaranya Ketua PC PMII Blitar M. Riski Fadila, Ketua Cabang HMI Blitar Qithfirul Aziz, Ketua PC IMM Blitar Rifqi Ilham Rizkianto, Ketua BEM STIT Al Muslihuun Tlogo Blitar Zaka Ali Ridho, Ketua DEMA STITMA Blitar M. Kholidul Asyhar, serta Presiden BEM UNU Blitar Khabibulloh.

Koordinator Lapangan, Alex Cahyono, menyampaikan bahwa aksi pemasangan spanduk ini merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi. Ia merujuk pada Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

“Ini adalah suara murni mahasiswa. Kami tidak sedang mencari sensasi, melainkan menyampaikan realitas di lapangan,” ujarnya.

“Kondisi buruh di Blitar Raya masih diwarnai berbagai bentuk ketidakadilan, mulai dari upah yang tidak sesuai, minimnya jaminan kerja, hingga kebijakan yang belum berpihak pada kesejahteraan pekerja,” lanjut Alex.

Ia juga menambahkan bahwa persoalan kesejahteraan tidak hanya dirasakan buruh sektor industri, tetapi juga tenaga pendidik, khususnya guru honorer yang masih menghadapi ketimpangan penghasilan serta minimnya perlindungan kerja.

“Aksi ini menjadi pengingat bagi negara dan pemerintah daerah agar benar-benar hadir dalam menjamin kesejahteraan buruh dan guru. Jika tidak, kesenjangan sosial akan semakin melebar,” imbuhnya.

Isu kesejahteraan buruh yang diangkat dalam aksi ini dinilai selaras dengan realitas di lapangan, sehingga berpotensi membangun kesadaran kolektif masyarakat Blitar Raya. (At/red)