MATABLITAR.COM – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Pengurus Cabang (PC) PMII Blitar menginisiasi serangkaian kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat dengan makna ideologis.
Salah satu agenda yang menjadi fokus utama, tepat pada 17 April, adalah pelaksanaan ziarah ke makam para ulama di Blitar dan alumni PMII yang telah wafat.
Kegiatan tersebut digelar pada Jumat, 17 April 2026, sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya refleksi atas jejak historis dan nilai-nilai dasar yang membentuk perjalanan PMII hingga saat ini.
Ketua PC PMII Blitar, M. Riski Fadila, menekankan bahwa peringatan harlah seharusnya tidak dimaknai sebatas seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran ideologis kader.
Ia menilai, ziarah ini merupakan simbol penting yang menegaskan bahwa perjalanan panjang PMII tidak dapat dipisahkan dari ulama dan para pendahulu.
“Momentum harlah ini kami jadikan sebagai refleksi ideologis. Menghormati ulama dan alumni yang telah mendahului adalah bentuk kesadaran bahwa hiroh perjuangan PMII berdiri di atas fondasi yang mereka bangun,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, PC PMII Blitar mengunjungi sejumlah makam di antaranya makam KH. Dimyati Selopuro, Syaikh Abu Hasan Kuningan, Kiai Mansyur, serta makam almarhum H. Abdul Aziz yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PC PMII Tulungagung pada tahun 1995 sekaligus ketua umum PC IKA PMII Blitar ke 3.
Rangkaian ziarah berlangsung dengan khidmat melalui pembacaan tahlil dan doa bersama. Selain sebagai bentuk penghormatan, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan nilai spiritualitas serta kesadaran historis kepada kader PMII agar tetap berpegang pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa PMII tidak hanya sebagai organisasi mahasiswa, melainkan bagian dari mata rantai panjang perjuangan ulama dan intelektual Islam yang terus berlanjut lintas generasi.
Melalui kegiatan ini, PC PMII Blitar berharap para kader tidak hanya aktif dalam dinamika gerakan sosial dan intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman nilai, kesadaran sejarah yang kuat serta komitmen untuk melanjutkan estafet perjuangan yang telah diwariskan oleh para pendahulu. (At/red)



Tinggalkan Balasan