MATABLITAR.COM – Gorontalo- Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Gorontalo berkumpul di Masjid Darussalam, Desa Sidomulyo, Kecamatan Boliyohuto, Ahad (16/8/2026) malam. Mereka memanjatkan doa, bershalawat, sekaligus mengenang perjuangan para pendahulu dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

Kegiatan yang digelar Jam’iyyah Muwasholah Baina Ummat Nahdlatil Ulama (JIMMAT NU) Gorontalo itu dirangkai dalam Munajat Tasyakuran Kemerdekaan RI Ke- 81, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta doa bersama untuk kesuksesan Muktamar NU ke-35 di Jombang.

Sekitar 1.500 jamaah hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka datang dari Kecamatan Boliyohuto, Mootilango, Tolangohula, dan Asparaga. Menariknya, jamaah berasal dari masyarakat keturunan Jawa maupun warga asli Gorontalo yang sama-sama tumbuh dalam tradisi ke-NU-an.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh NU dan pemerintahan, di antaranya perwakilan PWNU Gorontalo KH Dr Hamdan Ladiku, M.HI, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Gorontalo KH Ahmad Masduqi Al-Jabalani, Wakil Rais Syuriyah KH Syahroni M. Sarifudin, Wakil Rais Syuriyah KH Nuraini, Ketua PCNU Kabupaten Gorontalo KH Ariyanto Mopangga, serta jajaran lembaga dan badan otonom NU.

Sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat juga hadir, termasuk anggota DPRD Kabupaten Gorontalo, Kapolsek dan Koramil Boliyohuto, Camat Boliyohuto Agus Rojikan, para kepala desa beserta perangkatnya, para imam dan pimpinan jamaah, serta tokoh masyarakat.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, jamaah mengikuti sambutan Wakil Rais Syuriyah NU, doa, sambutan Camat Boliyohuto, lantunan shalawat dari Babul Mustofa, hingga tausiyah utama yang disampaikan KH Ahmad Mudlofi, S.Ag., M.HI, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Hanan, Sawentar, Kanigoro, Blitar.

Pesan KH Ahmad Mudlofi: Kemerdekaan Harus Dirawat

Dalam tausiyahnya, KH Ahmad Mudlofi mengajak warga NU untuk tidak berhenti memaknai kemerdekaan hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah. Kemerdekaan, menurutnya, merupakan amanah yang harus terus dirawat melalui persatuan, doa, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Ia juga mengingatkan bahwa NU memiliki sejarah panjang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bagian penting dari tanggung jawab warga NU.

Semangat perjuangan para ulama dan santri, lanjutnya, harus terus diteruskan dalam kehidupan hari ini. Bukan lagi dengan mengangkat senjata seperti pada masa perjuangan kemerdekaan, melainkan dengan menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, merawat kehidupan sosial, serta menghindarkan masyarakat dari berbagai bentuk perpecahan.

Di tengah kehidupan berbangsa yang terus berubah, KH Ahmad Mudlofi juga menekankan pentingnya munajat. Doa tidak ditempatkan sebagai pengganti ikhtiar, tetapi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari usaha manusia dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.

JIMMAT NU Jadi Ruang Silaturahmi Jamaah

Ketua JIMMAT NU Gorontalo, KH Abdurohim, menegaskan bahwa keberadaan JIMMAT NU bukan sekadar wadah kegiatan keagamaan. Lebih dari itu, organisasi tersebut menjadi ruang bertemunya para ketua jamaah, pimpinan majelis, serta pengurus takmir masjid dan mushola.

Melalui wadah tersebut, silaturahmi diharapkan terus terjaga dan hubungan antarelemen masyarakat NU semakin kuat.

“JIMMAT NU menjadi sarana silaturahmi para ketua jamaah, ketua majelis, ketua takmir masjid dan mushola untuk tetap bersatu menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Camat Boliyohuto Agus Rojikan juga memberikan apresiasi terhadap kegiatan JIMMAT NU. Menurutnya, kegiatan keagamaan yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat memiliki arti penting dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Ia menilai kegiatan semacam itu tidak hanya memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang mempererat hubungan sosial masyarakat.

JIMMAT NU Gorontalo secara rutin menggelar istighotsah setiap bulan, tepatnya pada malam Minggu Legi. Sementara untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI, kegiatan serupa secara rutin dilaksanakan setiap malam menjelang peringatan kemerdekaan.

Bagi jamaah, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk bersyukur, berdoa, bershalawat, sekaligus memperkuat tali persaudaraan.

Panitia pengarah, Slamet Supardi, mengaku mendapatkan kesan mendalam setelah mengikuti tausiyah KH Ahmad Mudlofi.

“Setelah mendengar ceramah Gus Dofi, saya bangga menjadi warga NU. Karena dengan menjadi warga NU, insyaallah sudah merupakan santri dari Mbah Hasyim,” ujarnya.

Ia juga menilai penting bagi generasi NU untuk terus menjaga tradisi yang telah diwariskan para ulama, seperti kenduri, manakiban, dan shalawatan.

Bagi Slamet, tradisi tersebut bukan sekadar ritual keagamaan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, silaturahmi, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan para ulama.

Dari Gorontalo, Doa untuk NU dan Indonesia

Malam itu, Masjid Darussalam bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah. Ia menjadi ruang perjumpaan antara doa, sejarah, tradisi, dan harapan.

Kemerdekaan disyukuri. Maulid Nabi diperingati. Perjuangan ulama dikenang. Persatuan dijaga. Dan untuk masa depan NU, doa bersama dipanjatkan agar Muktamar NU ke-35 di Jombang dapat berjalan sukses serta membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Ketua panitia, Abdul Kholiq, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan. Menurutnya, kemeriahan dan antusiasme jamaah menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga acara ini dapat berlangsung meriah dan penuh semangat,” ujarnya.

Kehadiran KH Ahmad Mudlofi di Gorontalo tidak berhenti pada acara JIMMAT NU. Selama berada di Gorontalo, ia juga bersilaturahmi ke sejumlah pondok pesantren, bertemu para santri, serta memberikan tausiyah.

Dari masjid hingga pesantren, pesan yang dibawa tetap sama: bahwa menjadi bagian dari NU bukan sekadar memiliki identitas organisasi, tetapi juga merawat tradisi, menghormati ulama, menjaga persaudaraan, dan ikut menjaga Indonesia.

Sebab, bagi warga NU, mencintai negeri bukan hanya slogan. Ia adalah bagian dari amanah yang diwariskan para ulama dan harus terus dihidupkan dari generasi ke generasi. (*)