MATABLITAR.COM – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Blitar terus memperkuat sistem kaderisasi organisasi melalui Pelatihan Instruktur Dasar (PID) II.

Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas instruktur agar mampu menjalankan proses kaderisasi secara terarah, adaptif sekaligus berkelanjutan.

PID II PC PMII Blitar digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu, 5-6 September 2026, di Pendopo Islam Nusantara, Sekretariat PC PMII Blitar. Mengangkat tema “Transformasi Instruktur Menuju Sistem Kaderisasi PMII Berkelanjutan”, kegiatan tersebut diikuti oleh kader yang dipersiapkan untuk memiliki kompetensi sebagai instruktur dalam proses kaderisasi PMII.

Pelatihan Instruktur Dasar ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis peserta dalam mengelola forum kaderisasi.

Lebih jauh, PID II menjadi ruang untuk membangun pemahaman mengenai kebutuhan kader, tantangan organisasi, serta perubahan sosial yang turut memengaruhi pola kaderisasi di lingkungan PMII.

Ketua Pelaksana PID II yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I PC PMII Blitar Bidang Internal dan Kaderisasi, Bayu Sutiyoso, mengatakan keberadaan instruktur memiliki peran penting dalam memastikan kaderisasi berjalan sesuai arah dan tujuan organisasi.

Menurut Bayu, kualitas instruktur akan berpengaruh terhadap kualitas proses pembentukan kader. Oleh karena itu, seorang instruktur tidak cukup hanya memiliki kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu memahami karakter kader serta merancang proses kaderisasi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman.

“Transformasi instruktur menjadi kebutuhan penting dalam menjaga keberlanjutan kaderisasi PMII. Instruktur harus mampu memahami perkembangan kader, membaca tantangan zaman, sekaligus memastikan nilai dan arah perjuangan PMII tetap menjadi pijakan dalam proses kaderisasi,” ungkap Bayu.

Ia berharap para peserta diharapkan mampu membawa perspektif baru mengenai kaderisasi sekaligus menerapkannya ketika terlibat dalam berbagai proses kaderisasi di lingkungan PMII.

Sementara itu, Ketua PC PMII Blitar, M. Riski Fadila, menegaskan bahwa kaderisasi merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan organisasi.

Menurutnya, pembahasan mengenai masa depan PMII tidak dapat dilepaskan dari kualitas sistem kaderisasi yang dibangun sejak sekarang.

Regenerasi kepemimpinan dan kesinambungan gerakan, kata Riski, sangat ditentukan oleh bagaimana proses pembentukan kader dilakukan secara sistematis.

Dalam konteks tersebut, instruktur memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan proses pengembangan kapasitas kader.

Riski menilai instruktur tidak semestinya hanya diposisikan sebagai pelaksana teknis dalam sebuah forum kaderisasi. Instruktur juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter, pola pikir, kapasitas intelektual, hingga militansi kader PMII.

“Kalau kita ingin berbicara tentang keberlanjutan PMII, maka yang harus diperkuat adalah sistem kaderisasinya. Instruktur menjadi salah satu elemen penting karena dari proses kaderisasi itulah kualitas kader dan keberlanjutan organisasi ditentukan,” jelasnya.

Ia pun mendorong seluruh peserta PID II untuk menjadikan pelatihan tersebut sebagai momentum memperluas perspektif mengenai kaderisasi PMII.

Peserta diharapkan tidak sekadar menjalankan pola kaderisasi yang telah ada, tetapi juga mampu melakukan evaluasi terhadap praktik yang berjalan.

Selain evaluasi, instruktur juga dituntut memiliki keberanian untuk menghadirkan inovasi dalam proses kaderisasi. Langkah tersebut dinilai penting agar sistem kaderisasi PMII tetap relevan dengan karakter dan tantangan kader di tengah perubahan zaman. (At/red)