MATABLITAR.COM – Memasuki satu dekade perjalanan, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar memilih menengok kembali akar sejarahnya. Peringatan Harlah ke-10 UNU Blitar diisi dengan ziarah ke makam para muassis dan ulama perintis Nahdlatul Ulama (NU) Blitar Raya, Rabu (19/8/2026).

Bukan sekadar perjalanan dari satu makam ke makam lainnya, ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama sekaligus merefleksikan perjalanan UNU Blitar selama sepuluh tahun.

Kegiatan yang diikuti Badan Pembina Penyelenggara (BPP) dan jajaran pejabat struktural UNU Blitar itu merupakan bagian dari rangkaian Harlah ke-10.

Rombongan berangkat dari Kampus I UNU Blitar dan menyambangi tujuh makam ulama, yakni KH Mochsin Wahab, KH Manshur, KH Sibaweh Baghowi, KH Basuni, KH Muhammad Ridwan, KH Shodiq Damanhuri, dan KH Dimyati.

Koordinator Ziarah Muassis NU Blitar, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., mengatakan ziarah tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan mendoakan para pendahulu.

Menurutnya, ada nilai perjuangan yang perlu dipelajari dan diwariskan oleh generasi penerus.

“Ziarah ini bukan hanya untuk mengenang para pendahulu, tetapi juga untuk belajar dari perjuangan mereka. Nilai keilmuan, ketawadukan, khidmah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat perlu kita teruskan dalam perjalanan UNU Blitar,” ujarnya.

Arif menambahkan, ziarah ini menjadi sangat relevan dengan perjalanan UNU Blitar yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama dan lingkungan masyarakat yang memiliki sejarah panjang pendidikan pesantren.

Sejarah NU Blitar mencatat, NU Cabang Blitar mulai berdiri pada 1951. Saat itu, KH Mochsin Wahab dipercaya sebagai Rais Syuriyah, sedangkan KH Zahid Syafii menjadi Ketua Tanfidziyah. Pembentukan formal NU Cabang Blitar kemudian berlangsung melalui Konferensi Akbar pada 26 Mei 1956.

Dalam fase awal perkembangan NU di Blitar, sejumlah ulama memiliki peran penting dalam membangun fondasi organisasi sekaligus kehidupan keagamaan masyarakat. KH Mochsin Wahab, KH Muhammad Shofwan, dan KH Muhammad Ridwan merupakan tiga tokoh yang turut menggerakkan berdirinya NU Cabang Blitar.

Bersama para ulama lainnya, mereka membangun tradisi keagamaan, pendidikan, pesantren, serta pengabdian kepada masyarakat. Jejak perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat Blitar.

Bagi UNU Blitar, sejarah tersebut bukan sekadar catatan masa lalu. Ia menjadi cermin untuk melihat bagaimana sebuah lembaga dibangun dari nilai, ketekunan, ilmu, dan pengabdian.

Memasuki usia 10 tahun, UNU Blitar menghadapi fase baru dalam perjalanan kelembagaannya. Pertumbuhan kampus dan pengembangan pendidikan tinggi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar tradisi yang melahirkannya.

Nilai keilmuan, khidmah, kearifan lokal, penguatan kelembagaan, dan regenerasi menjadi bagian penting yang ingin terus dikembangkan melalui pendidikan tinggi.

Harlah ke-10 UNU Blitar sendiri mengusung tema “Satu Dekade Bertumbuh, Meneguhkan Kearifan Lokal, Mewujudkan Universitas Unggul Berdaya Saing Global.”

Tema tersebut seolah menemukan maknanya dalam perjalanan ziarah para muassis. Di satu sisi, UNU Blitar ingin terus tumbuh dan meningkatkan daya saing. Namun di sisi lain, pertumbuhan tersebut tidak boleh membuat kampus kehilangan akar sejarah dan nilai yang menjadi pijakannya.

Karena itu, ziarah muassis tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda seremonial Harlah. Perjalanan tersebut menjadi cara UNU Blitar melihat kembali dari mana ia tumbuh, siapa yang meletakkan fondasinya, dan nilai apa yang harus terus dijaga.

Dari makam para ulama, UNU Blitar membawa kembali semangat perjuangan itu ke ruang-ruang pendidikan: melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, pengabdian, dan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Wj/red)