MATABLITAR.COM – Kesamben – Inovasi sederhana lahir dari kolaborasi mahasiswa dan warga Desa Kesamben, Kabupaten Blitar. Mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama masyarakat setempat membuat rocket stove, tungku alternatif yang dirancang untuk menghasilkan pembakaran lebih terarah dan efisien.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKN Kelompok 173 di Desa Kesamben. Pembuatan rocket stove berlangsung pada Sabtu (15/8/2026) di RT 04 RW 09, Desa Kesamben, dan dikerjakan secara gotong royong bersama warga.
Mahasiswa Kelompok KKN Kesambenverse UMM, Ashema Hazuraque Minezwa Ardhani, mengatakan pemilihan rocket stove sebagai salah satu program kerja tidak lepas dari pertimbangan efisiensi penggunaan bahan bakar sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Ashema, rocket stove memiliki sistem pembakaran yang membuat bahan bakar terbakar lebih terarah. Dengan desain tersebut, penggunaan bahan bakar dapat ditekan sehingga berpotensi mengurangi pemakaian kayu secara berlebihan.
“Pemilihan rocket stove ini salah satunya karena kami ingin menghadirkan alternatif tungku yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan tetap memperhatikan aspek lingkungan,” ujar Ashema.
Selain efisien, teknologi tersebut dipilih karena proses pembuatannya relatif sederhana. Material yang digunakan juga dapat disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar.
Bagi mahasiswa KKN, pertimbangan tersebut penting karena program yang dibawa ke masyarakat tidak harus selalu menggunakan teknologi yang rumit. Justru, teknologi sederhana yang mudah dipahami dan dirawat masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pembuatan rocket stove tidak dilakukan mahasiswa secara mandiri. Sejak tahap persiapan hingga penyelesaian, warga RT 04 RW 09 turut terlibat langsung.
Warga membantu menyiapkan bahan, merakit tungku, hingga menyelesaikan bagian-bagian rocket stove. Proses tersebut sekaligus menjadi ruang bertukar pengetahuan antara mahasiswa dan masyarakat.
Mahasiswa KKN Kelompok 173 menjelaskan prinsip kerja rocket stove, cara penggunaannya, serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatannya.
Keterlibatan warga sejak awal menjadi bagian penting dari program tersebut. Dengan demikian, rocket stove yang dihasilkan bukan sekadar produk dari kegiatan KKN, melainkan menjadi hasil kerja bersama yang cara penggunaan dan perawatannya dipahami oleh masyarakat.
“Harapannya, warga tidak hanya menerima hasil akhirnya, tetapi juga mengetahui bagaimana proses pembuatannya, prinsip kerjanya, dan bagaimana cara memanfaatkannya,” kata Ashema.
Pendekatan semacam itu membuat program KKN tidak berhenti pada seremoni. Ada proses transfer pengetahuan yang diharapkan dapat terus berkembang setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian di desa.
Diresmikan Bersama Warga
Setelah melalui proses pembuatan, rocket stove tersebut kemudian diresmikan pada Rabu (19/8/2026) di RT 04 RW 09, Desa Kesamben.
Peresmian menjadi penanda selesainya salah satu program kerja KKN Berdampak Kelompok 173 UMM. Mahasiswa bersama warga melihat hasil tungku yang sebelumnya dibuat secara gotong royong.
Bagi Kelompok 173, keberhasilan program bukan semata-mata diukur dari selesainya sebuah alat. Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian utama yang diharapkan membuat program memiliki keberlanjutan.
Warga ditempatkan bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari proses. Mulai dari menyiapkan bahan, membuat tungku, hingga memahami cara pemanfaatannya.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 UMM berharap rocket stove dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Kesamben.
Teknologi sederhana tersebut diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam menghemat penggunaan bahan bakar sekaligus mendorong kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Pada akhirnya, rocket stove mungkin hanyalah sebuah tungku sederhana. Namun, di tangan mahasiswa dan warga yang mengerjakannya bersama, tungku itu menjadi simbol bahwa solusi atas persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Dari desa, dari gotong royong, dan dari teknologi sederhana, sebuah kebiasaan baru bisa mulai dibangun: menggunakan sumber daya secara lebih bijak dan menjaga lingkungan melalui langkah-langkah yang bisa dilakukan bersama. (Red)



Tinggalkan Balasan