MATABLITAR.COM – Menyongsong Pra-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STIT Misbahudin Ahmad (STITMA) Blitar menggelar forum bedah buku Nahdlatul Ulama Abad Kedua, Sabtu (22/8/2026).

Mengusung tema “Membaca Arah Strategis Muktamar Ke-35 dalam Meneguhkan Tradisi untuk Transformasi Peradaban”, kegiatan yang berlangsung di Aula Serbaguna Kampus STITMA Blitar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Harlah ke-4 STITMA Blitar sekaligus ruang refleksi untuk membaca masa depan NU memasuki abad keduanya.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I, yang merupakan penulis buku sekaligus Ketua STITMA Blitar. Sementara itu, buku tersebut dibedah oleh Drs. KH. Habib Zunaedi, Ketua MWC NU Sanankulon. Diskusi dipandu Ahmad Izzuddin, M.Pd.I., M.Ag., Wakil Ketua I STITMA Blitar.

Buku setebal 209 halaman yang diterbitkan PBNU itu tidak sekadar menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi pintu masuk untuk melihat berbagai tantangan dan agenda strategis NU di masa mendatang.

Dalam forum tersebut, Dr. Kholid menyoroti tiga agenda besar yang dinilai penting bagi NU dalam menapaki abad kedua.

Agenda pertama adalah konsolidasi kelembagaan. Menurut Dr. Kholid, kekuatan NU tidak boleh hanya terlihat di tingkat pusat. Struktur organisasi hingga MWC dan ranting harus menjadi basis utama pengabdian kepada masyarakat.

“Jangan sampai program bagus di pusat, tapi mati di ranting. Abad Kedua ini ujiannya ada di MWC dan Ranting,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi NU tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan dan program di tingkat PBNU. Implementasi nyata justru akan diuji di tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Dengan demikian, penguatan kapasitas organisasi, kaderisasi, tata kelola, serta optimalisasi peran MWC dan ranting menjadi bagian penting dalam memastikan agenda besar NU benar-benar dirasakan warga.

Agenda kedua yang mengemuka adalah penguatan ekonomi dan digitalisasi. Buku Nahdlatul Ulama Abad Kedua menawarkan Roadmap 2026–2050 yang salah satunya diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi jam’iyah.

Dalam konteks tersebut, KH. Habib Zunaedi menekankan pentingnya membangun ekosistem bisnis Nahdliyin, termasuk memperkuat koperasi dan aktivitas ekonomi di tingkat bawah.

Menurutnya, kemandirian organisasi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan warga dan struktur NU dalam membangun kekuatan ekonomi secara berkelanjutan.

Di sisi lain, transformasi digital menghadirkan tantangan yang tidak kalah besar. Perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara generasi muda memperoleh pengetahuan, termasuk pengetahuan keagamaan.

Dr. Kholid mengingatkan bahwa NU harus mampu merespons perubahan tersebut tanpa kehilangan otoritas keilmuan dan tradisi Aswaja.

“Bagaimana kita menjaga otoritas Aswaja agar tidak kalah dengan ‘Ustaz TikTok’? Jawabannya: literasi digital dan rekontekstualisasi dakwah untuk Gen Z,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah di era digital membutuhkan cara baru dalam menyampaikan pesan, tanpa harus meninggalkan substansi dan nilai-nilai keislaman yang menjadi pijakan NU.

Agenda ketiga adalah peran politik kebangsaan. Forum bedah buku juga mendiskusikan posisi NU dalam dinamika politik nasional, khususnya di tengah perubahan lanskap politik akibat perkembangan teknologi digital.

NU diharapkan tetap mengambil posisi sebagai moral force sekaligus menjaga Khittah 1926. Politik bagi NU tidak semata-mata dipahami sebagai perebutan kekuasaan, tetapi sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan dan menjaga persatuan bangsa.

Semangat politik kemaslahatan tersebut diharapkan mampu menempatkan NU sebagai salah satu kekuatan perekat bangsa dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Mahasiswa dan Pengurus NU Jangan Jadi Penonton

Diskusi berlangsung interaktif. Sebanyak 10 pertanyaan pemantik diarahkan untuk mengajak peserta melihat posisi mereka dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.

Peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa hingga pengurus NU tidak hanya diajak memahami isi buku, tetapi juga didorong untuk mengambil peran.

Pesan yang mengemuka sederhana: memasuki abad kedua, warga NU tidak cukup hanya menjadi penonton terhadap perubahan. Mereka harus menjadi pelaku yang ikut menentukan arah perubahan tersebut.

Semangat itu sekaligus menjadi relevansi penting forum yang digelar DEMA STITMA Blitar. Kampus dan mahasiswa ditempatkan bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan untuk menjawab tantangan zaman.

Menutup kegiatan, moderator mengutip pesan yang terdapat dalam buku tersebut:

“Dengan berlandaskan Khittah 1926, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, Islam Nusantara, politik kemaslahatan, dan Fiqih Peradaban, NU akan tetap menjadi penjaga tradisi sekaligus pelopor pembaruan.”

Pesan tersebut menjadi benang merah forum: bahwa menjaga tradisi dan melakukan transformasi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru dari tradisi itulah NU diharapkan mampu melahirkan pembaruan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Melalui forum bedah buku ini, DEMA STITMA Blitar berharap gagasan yang berkembang tidak berhenti di ruang diskusi. Hasil refleksi dan pembacaan strategis terhadap Nahdlatul Ulama Abad Kedua diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui langkah-langkah nyata di lingkungan PCNU dan MWC NU se-Kabupaten Blitar. (Aiz/red)