MATABLITAR.COM – Dalam kegiatan Istighotsah ke-40 IKA PMII Blitar yang digelar di kawasan Wisata Edukasi Bon Jambu, Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Jumat (27/3/2026), pesan spiritual yang disampaikan oleh Kiai Azharudin menjadi titik tekan utama yang menggugah kesadaran kolektif para peserta.
Sejak pagi hari, rangkaian kegiatan telah dimulai dengan bakti sosial berupa terapi kesehatan gratis bagi masyarakat umum. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB ini disambut antusias warga sekitar.
Selanjutnya, suasana khidmat terasa saat Khotmil Qur’an digelar pada pukul 14.00 hingga 15.00 WIB, sebelum puncak acara istighotsah dilaksanakan hingga sore hari.
Ketua IKA PMII Blitar, Heri Setiyono, dalam sambutannya menegaskan bahwa IKA PMII harus terus bergerak melampaui batas-batas formalitas organisasi.
“IKA PMII bergerak tanpa batas, menggerakkan tanpa batas. Kita punya tanggung jawab untuk terus mengembangkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa PMII memiliki sejarah panjang dalam menjaga keutuhan bangsa. “PMII lahir senafas dengan TNI dan Polri dalam mempertahankan NKRI. Maka alumni PMII harus tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan,” tambahnya.
Sementara itu, Kiai Azharudin, Kepala Desa Mandesan yang juga alumni PMII senior, dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya mengintegrasikan ilmu dan pengabdian sebagai jalan menuju kesejahteraan sosial.
“Ilmu dan bakti harus berjalan beriringan. Tidak cukup hanya pintar, tapi juga harus hadir memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Kiai Azharudin kemudian menguraikan lima ciri utama orang bertaqwa yang relevan dengan kehidupan sosial saat ini. Pertama, orang bertaqwa adalah mereka yang mampu mengendalikan emosi. Menurutnya, kemampuan ini menjadi kunci dalam melahirkan keputusan dan tindakan yang positif.
“Orang yang bisa mengendalikan emosinya, insyaallah akan menghasilkan sesuatu yang baik. Tidak mudah terpancing, tidak reaktif,” jelasnya.
Kedua, orang bertaqwa memiliki hati yang lapang, atau dalam istilah Jawa disebut atine jembar. Mereka mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Sikap ini dinilai penting dalam membangun harmoni sosial, terutama di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, orang bertaqwa adalah pribadi yang cepat menyadari kesalahan. Mereka tidak menunda untuk memperbaiki diri ketika melakukan kekeliruan.
Keempat, mereka tidak akan terjerumus pada kesalahan yang sama. Kesadaran diri yang kuat membuat mereka belajar dari pengalaman dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan yang kelima, lanjut Kiai Azharudin, orang bertaqwa memiliki orientasi pada kesejahteraan masyarakat. “Orang yang bertaqwa itu tidak hanya baik secara pribadi, tapi juga membawa manfaat luas. Kehadirannya harus bisa mensejahterakan lingkungan sekitarnya,” ungkapnya.
Di akhir tausiyahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum istighotsah dan halal bihalal sebagai sarana introspeksi diri. Menurutnya, refleksi menjadi kunci untuk menjaga konsistensi dalam berbuat kebaikan.
“Kita semua harus terus instropeksi diri. Jangan sampai kita merasa sudah benar, padahal masih banyak yang perlu diperbaiki,” pesannya.
Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi antar alumni PMII, tetapi juga mempertegas peran mereka sebagai agen perubahan sosial yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. (Ay/red)



Tinggalkan Balasan