MATABLITAR.COM – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar Seminar Internasional bertajuk “Kesarjanaan Barat tentang Al-Qur’an: Ancaman atau Peluang bagi Studi Islam di Indonesia?”. Senin, (8/6/2026)

Kegiatan yang dingelar di Kampus III UNU Blitar ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Harlah ke-7 Fakultas Agama Islam UNU Blitar.

Seminar menghadirkan Prof. Dr. Mun’im Sirry, M.A., akademisi bidang Studi Islam dari University of Notre Dame, Amerika Serikat, serta dosen Prodi IAT UNU Blitar Ananda Emiel Kamala, S.Hum., M.A. Kegiatan diikuti mahasiswa, dosen, dan pemerhati studi Islam yang antusias mendiskusikan perkembangan kajian Al-Qur’an di tingkat global.

Ketua Prodi IAT, Abd. Rouf, Lc., M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar internasional ini merupakan upaya prodi untuk membuka wawasan mahasiswa terhadap perkembangan studi Al-Qur’an di dunia akademik internasional.

“Kami ingin mahasiswa memiliki perspektif yang luas dan tidak hanya mengenal kajian Al-Qur’an dari satu sudut pandang. Melalui forum seperti ini, mahasiswa dapat belajar berdialog dengan berbagai pendekatan akademik secara kritis dan tetap berlandaskan tradisi keilmuan Islam,” ujarnya.

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Agama Islam UNU Blitar, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. Dalam opening speech-nya, ia menegaskan bahwa peringatan Harlah ke-7 FAI tidak hanya menjadi momentum refleksi, tetapi juga penguatan kualitas akademik.

“Memasuki usia ketujuh, Fakultas Agama Islam terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan jejaring akademik. Kehadiran akademisi internasional dalam seminar ini menjadi bagian dari ikhtiar kami untuk menghadirkan atmosfer akademik yang lebih luas dan berdaya saing global,” katanya.

Pada sesi pengantar, Ananda Emiel Kamala menjelaskan bahwa kesarjanaan Barat dalam studi Al-Qur’an perlu dipahami sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang terus bergerak. Menurutnya, berbagai pendekatan akademik yang berkembang dapat menjadi peluang untuk memperkaya metodologi kajian Islam di Indonesia.

Sementara itu, Prof. Dr. Mun’im Sirry memaparkan perkembangan mutakhir studi Al-Qur’an di Barat yang dalam beberapa dekade terakhir mengalami pertumbuhan sangat pesat. Menurutnya, kajian Al-Qur’an kini menjadi salah satu bidang yang paling dinamis dalam studi Islam kontemporer.

“Beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam studi ilmiah mengenai Al-Qur’an dan tafsirnya. Bidang ini berkembang sangat pesat baik dari segi jumlah penelitian maupun keragaman isu yang dibahas,” jelas Prof. Mun’im.

Dalam paparannya, ia juga mengulas sejumlah perdebatan akademik yang berkembang di Barat, termasuk penelitian manuskrip Al-Qur’an kuno, teori kodifikasi teks, hingga pendekatan sinkronik dan diakronik dalam memahami Al-Qur’an. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan tersebut seharusnya dipandang sebagai tantangan intelektual yang dapat mendorong lahirnya penelitian yang lebih berkualitas.

“Tugas akademisi Muslim bukan hanya menerima atau menolak sebuah teori, tetapi mengkajinya secara kritis, melakukan verifikasi ilmiah, dan menghadirkan kontribusi akademik yang memperkaya khazanah studi Al-Qur’an,” tegasnya.

Melalui seminar internasional ini, Prodi IAT FAI UNU Blitar menegaskan komitmennya untuk terus membangun tradisi akademik yang terbuka, moderat, dan berorientasi global. Selain menjadi bagian dari perayaan Harlah ke-7 FAI, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan wacana studi Al-Qur’an kontemporer di tingkat internasional. (Wj/red)