Penulis : Nenik Susana*
Awalnya, setiap jengkal langkah kaki ini terasa begitu berat. Di dalam kepala kami, berkecamuk sejuta tanya dan keraguan yang terus menghantui, membisikkan rasa takut yang tak berkesudahan.
“Mungkinkah kami yang rambutnya mulai memutih, kami yang tangannya sudah kasar menggendong anak, kami yang tenaganya habis diperas kerja paruh waktu dan peluh serabutan… masih layak mengecap manisnya bangku pendidikan?”
Kami teramat takut pada sistem sekolah yang rumit. Kami sadar diri—kami hanyalah sekelompok orang yang waktu luangnya tak menentu, yang hidupnya sehari-hari dikepung oleh riuh rendah urusan dapur dan kerasnya perjuangan untuk sekadar bertahan hidup. ada lubang menganga yang begitu perih di dalam dada kami; sebuah rasa minor, rasa kerdil karena merasa telah tertinggal teramat jauh.
Dua tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun kami terpisah dari lembar-lembar buku. Sementara orang lain bangga memegang ijazah, kami hanya bisa menunduk pudar. Kami cemas, adakah guru yang sudi bersabar menghadapi langkah kami yang lamban dalam mengeja? Adakah yang mau menerima ingatan kami yang mulai tumpul dimakan usia?
Namun, seluruh ketakutan itu luruh menjadi butiran air mata seketika saat kami melangkah masuk ke PKBM Tunas Pertiwi.
Rumah yang Memeluk Luka
Tempat ini, meski hanya bisa kami datangi sebulan sekali, telah menjelma menjadi rumah kedua yang paling hangat. Di tempat ini, kalimat “kamu tidak bisa” atau “kamu tidak mampu” dikubur dalam-dalam di liang lahat. Kami dipeluk tanpa peduli seberapa rumitnya urusan kami sebagai ibu rumah tangga, atau seberapa legam dan lelahnya tubuh kami setelah pulang bekerja serabutan. Kami didekap, dibimbing, dan dipaksa percaya bahwa di dalam diri kami yang rapuh ini, masih ada kekuatan untuk bangkit.
Kehangatan yang meruntuhkan keangkuhan dunia itu mengalir tulus dari ruang Kepala Sekolah. Pak Mus, engkau menyambut kedatangan kami yang penuh keterbatasan ini layaknya seorang ayah yang setia berdiri di ambang pintu, menanti anak-anaknya pulang dari tanah perantauan yang kejam.
Di saat kami datang membawa keramaian yang berisik, kepolosan yang lugu, dan terkadang keonaran karena ketidaktahuan kami, engkau tidak pernah sekalipun menyalakan amarah. Dengan suara rendah yang meneduhkan jiwa, engkau selalu berkata:
“Hei cah, rungokno sek…” Kalimat bersahaja itu selalu meluncur, menyembuhkan harga diri kami yang sempat patah, lalu diikuti oleh semboyan yang membakar sisa-sisa semangat di dada kami: “Harus bisa, kita harus bisa!”
Para Lentera di Ujung Jalan
Tak kalah berartinya adalah para lentera hidup kami—para tutor yang teramat luar biasa. Kami tidak akan pernah lupa bagaimana Bu Yuni, dengan ketegasan yang dibalut kasih sayang seorang ibu, mengarahkan kami yang bebal: “Didengarkan dulu, sek cah tak deloke sek…”
Atau lengkingan suara Bu Astik yang khas, yang selalu bergema di telinga kami seolah enggan membiarkan kami menyerah pada nasib yang tidak adil: “Beh cah, lek sampean ra ngerjakne, kwi digae nilaimu ben munggah!” (Di balik suara lantang itu, kami tahu ada rintihan doa agar nasib kami berubah).
Terima kasih juga yang tak terhingga untuk Bu Dea, Bu Elma, dan Bu Lela. Terima kasih karena telah meluangkan stok sabar yang seolah tak bertepi untuk kami. Bahkan di saat kalian harus sedikit ‘ngegas’ demi menghadapi segala kerandoman dan tingkah polah kami yang kekanak-kanakan di usia dewasa ini.
Dari lubuk hati yang paling dalam, maafkan kami… Maafkan jika terkadang sikap kami melampaui batas dan tanpa sengaja menggores luka di perasaan panjenengan semua.
Dan teruntuk para pendamping PKH, tangan-tangan sepi yang telah membukakan jalan, yang menuntun langkah tertatih kami hingga mengenalkan kami pada rahim PKBM ini: terima kasih banyak. Langkah kecil dan kepedulian kalian telah memutar balik arah takdir hidup kami yang sempat buram.
Sebuah Doa yang Basah
Untuk Pak Mus yang teramat kami hormati dan kami sayangi… Sehat selalu nggih, Bapak. Panjang umur. Di luar sana, masih banyak anak-anakmu yang berjalan meraba-raba dalam kegelapan malam, yang kelak akan mengetuk pintu rumah ini untuk meminta bimbinganmu, yang merindukan dekapan hangat sambutanmu. Tetaplah menjadi ayah bagi kami yang haus akan ilmu.
Untuk Bu Yuni, Bu Astik, Bu Lela, dan seluruh tutor hebat… Jangan pernah bosan berjuang. Tetaplah menjadi pelita yang sudi naik-turun gunung demi menjemput mimpi-mimpi kami yang sempat tercecer di jalanan. Tetaplah sabar menghadapi riuhnya anak didikmu yang penuh warna ini.
Semoga PKBM Tunas Pertiwi selalu tegak berdiri, dipenuhi berkah, dan tak pernah lelah memuliakan mereka yang terpinggirkan oleh kerasnya kehidupan.
Sebab di tempat ini, kami akhirnya mengerti satu hal yang teramat sakral: Ketertinggalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjuangan suci untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Menuju sukses yang setara, menggenggam asa yang kini tak lagi patah.
*Keluarga Penerima Manfaat PKH Panggungrejo dan Peserta Didik PKBM Tunas Pertiwi; Disampaikan dalam Kesan Pesan Saat Pelepasan Peserta Didik PKBM Tunas Pertiwi



Tinggalkan Balasan