MATABLITAR.COM – Pagi baru saja menyapa Desa Pasirharjo, Kecamatan Talun. Di antara lalu lalang kendaraan dan hiruk-pikuk aktivitas warga, tampak seorang perempuan lanjut usia menuntun sepeda ontel tua. Di boncengan belakang, tersusun rapi tempe-tempe hasil buatannya sendiri yang siap dijajakan kepada para pelanggan.
Perempuan itu adalah Mbah Yahmini (71). Warga Dusun Kaliputih, Desa Pasirharjo, ini telah menjalani profesi sebagai penjual tempe keliling sejak tahun 1968. Selama hampir enam dekade, ia setia memproduksi tempe sendiri, lalu menjajakannya langsung kepada pelanggan dengan sepeda ontel yang kini menjadi saksi perjalanan hidupnya.
Di lingkungan sekitar, ia lebih dikenal dengan sebutan “MbokDe Tempe.” Hampir setiap hari ia berkeliling di wilayah Desa Pasirharjo dan sekitarnya. Salah satu tempat yang kerap menjadi titik berhentinya adalah depan Indomaret Kendalrejo, tempat pelanggan mengenalnya dan menunggu kedatangannya.
Meski keuntungan yang diperoleh rata-rata hanya sekitar Rp20 ribu per hari, semangatnya tidak pernah surut. Bagi Mbah Yahmini, bekerja bukan semata mencari keuntungan, melainkan menjaga kemandirian dan harga diri.
“Saya tetap bekerja supaya masih punya penghasilan untuk ditabung. Kalau hanya jualan di rumah, tidak banyak orang yang tahu,” tutur Mbah Yahmini.
Pilihan itu tentu tidak mudah. Di usia yang telah menginjak 71 tahun, tubuhnya mulai membungkuk dan tenaganya tak lagi sekuat dulu. Namun setiap putaran roda sepedanya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Saat ditanya tentang rahasia mempertahankan usaha selama puluhan tahun, jawabannya singkat namun penuh makna. “Harus telaten, jujur, sabar, dan ulet.” Ucap nya.
Empat nilai sederhana itulah yang menjadi pegangan hidupnya sejak memulai usaha pada 1968. Tanpa strategi pemasaran yang rumit, tanpa teknologi modern, ia mampu mempertahankan usaha keluarga hanya dengan kejujuran dan ketekunan.
Mbah Yahmini juga tercatat sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH) kohort 2023. Namun bantuan yang diterimanya tidak membuatnya berpangku tangan. Sebaliknya, ia tetap memilih bekerja selama tubuhnya masih mampu bergerak.
Pendamping Sosial PKH Kecamatan Talun, Lailatul Fitria, mengaku selalu merasa terinspirasi oleh sosok Mbah Yahmini.
“Di tengah keterbatasan usia dan kondisi fisik yang sudah membungkuk, Mbah Yahmini tetap memiliki semangat luar biasa untuk bekerja. Beliau tidak ingin bergantung kepada siapa pun selama masih mampu berusaha,” ujar Lailatul Fitria.
“Semangat produktif dan mandiri seperti inilah yang menjadi inspirasi bagi kita semua.” Tandasnya.
Kisah Mbah Yahmini menyampaikan pesan sederhana, tetapi begitu dalam. Bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk tetap berkarya, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, dan pekerjaan yang dilakukan dengan jujur selalu memiliki nilai yang mulia.
Di tengah kehidupan yang semakin serba instan, Mbah Yahmini justru mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan. Terkadang, keberhasilan hadir dalam bentuk semangat yang tak pernah padam, ketulusan menjalani pekerjaan, serta keberanian untuk tetap mandiri meski usia terus bertambah.
Sepeda ontel tua yang dituntunnya setiap hari mungkin telah termakan usia. Namun semangat yang menggerakkan itu tetap muda. Dari jalan-jalan kecil di Desa Pasirharjo, Mbah Yahmini telah mengajarkan sebuah pelajaran besar kepada kita semua: selama masih ada kemauan untuk bekerja dan berbuat baik, harapan akan selalu menemukan jalannya. (Red)



Tinggalkan Balasan