Penulis : Putut Daerobi*

Kang Aziz. Begitulah saya dan banyak sahabat menyapanya. Nama lengkapnya Abdul Aziz, sosok yang bagi saya adalah gudang ide yang seolah tak pernah kehabisan gagasan.

Kabar kepergiannya pada 24 September 2023 karena serangan stroke mendadak meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Bagi saya, menyebut Kang Aziz hanya sebagai seorang inisiator rasanya belum cukup. Ia adalah sosok multitalenta: organisator, pengkader, penggerak, negosiator, inovator, motivator, mentor, bahkan provokator – tentu saja dalam arti yang baik.

Saya mulai mengenal Kang Aziz lebih dekat sekitar tahun 2014. Meski sebelumnya kami sudah saling tahu, kedekatan itu terjalin ketika kami sama-sama aktif dalam komunitas Warga Tani Aswaja (Watana). Kesan pertama saya tentang dirinya begitu kuat: penuh semangat, mudah bergaul, murah senyum, dan selalu membawa gagasan baru dalam setiap pertemuan.

Hubungan kami semakin intens ketika Kang Aziz dipercaya memimpin Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Blitar Raya periode 2017–2022. Saat itu, saya juga terlibat sebagai salah satu wakil ketua.
Dari sana, saya semakin memahami satu hal: Kang Aziz adalah orang yang tidak hanya pandai melahirkan ide, tetapi juga mampu mewujudkannya.

Keberadaan Pendopo Islam Nusantara (PINus), Graha Pemuda, dan Asrama Pergerakan di Sekardangan, Kanigoro, Kabupaten Blitar, menjadi bukti nyata bagaimana ia bekerja. Ia merancang gagasan, menggalang dukungan, mengawal proses, hingga memastikan ide itu benar-benar terwujud.

Sepanjang yang saya ketahui, di mana pun Kang Aziz berkiprah, baik di organisasi maupun komunitas, ia selalu hadir dengan kontribusi besar, terutama dalam bentuk inisiatif untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan.

Saat memimpin Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Blitar, misalnya, ia menggagas Program Konsultasi Bisnis NU (Konbisnu) dan mengorganisasi para pelaku usaha Nahdliyin melalui program Wirausaha Nahdlatul Ulama (Wiranu).

Tidak berhenti di situ, Kang Aziz juga berhasil membuka akses pasar internasional bagi produk-produk Wiranu. Ikhtiar tersebut mengantarkan LPNU Kabupaten Blitar meraih penghargaan NU Award dari PWNU Jawa Timur.

Dalam beberapa kesempatan, Kang Aziz yang juga menjabat sebagai Ketua Ranting NU Bendosewu, Talun, sering bercerita kepada saya tentang cita-citanya mewujudkan “ranting idaman”. Baginya, ranting NU bukan sekedar struktur organisasi, tetapi pusat pemberdayaan umat yang hidup, mandiri, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Di dunia seni dan budaya, ia turut menggagas berdirinya Rumah Blitar Kreatif (RBK) di Kawedanan Wlingi sebagai ruang tumbuh bagi para pelaku seni dan budaya di Kabupaten Blitar.

Sementara di sektor UMKM, kiprahnya begitu terasa. Saya masih ingat bagaimana ia beberapa kali menginisiasi panggung UMKM untuk mempromosikan produk-produk lokal. Baginya, pelaku usaha kecil tidak cukup hanya dibekali semangat, tetapi juga harus mendapatkan akses yang lebih luas.

Karena itu, ia aktif membangun jejaring dengan berbagai pihak, mulai dari Bank Indonesia, pemerintah daerah, Dinas Koperasi, hingga Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Melalui kolaborasi tersebut, pelaku UMKM mendapatkan akses pembiayaan, pelatihan, dan peluang pasar yang lebih besar.

Kang Aziz juga kerap menjadi pembicara dalam seminar dan pelatihan kewirausahaan. Bahkan, beberapa kali ia berbagi pengalaman dan motivasi kepada komunitas Buruh Migran Indonesia di luar negeri.

Saya pernah mewawancarainya dalam podcast perdana kanal YouTube Mata Blitar saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika banyak pelaku UMKM mengeluhkan usahanya yang terpuruk, ia justru menyampaikan pesan sederhana yang hingga kini masih saya ingat.

“Jadi UMKM itu jangan lebay. Bangkit dan terus lakukan inovasi.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi begitulah Kang Aziz: lugas, optimistis, dan selalu mendorong orang lain untuk bangkit.

Salah satu hal yang paling saya kagumi darinya adalah kemampuannya membangun jejaring dan kolaborasi. Ia memahami bahwa perubahan besar tidak mungkin dikerjakan sendirian. Karena itu, ia rajin menghubungkan berbagai pihak, mempertemukan orang-orang dengan visi yang sama, dan menciptakan ruang kerja bersama.

Ditambah lagi, ia memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Kang Aziz mampu menyampaikan gagasannya dengan jelas dan meyakinkan. Tidak heran jika banyak orang akhirnya ikut terlibat dalam setiap inisiatif yang ia bangun.

Saya sering bercanda, “Ngrungokne Kang Aziz ngomong ki rosone koyo kesirep”. Ada daya tarik yang membuat orang ingin mendengarkan dan mengikuti alur pikirnya.

Namun, satu hal yang hingga kini masih membuat saya takjub adalah kemampuannya memproduksi ide-ide segar.
Ia seolah memiliki cara pandang yang berbeda. Kang Aziz tidak terikat pada pola pikir lama. Ia selalu mencari pendekatan baru untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi yang lebih efektif. Kemampuan berpikir kreatif inilah yang menjadi fondasi dari setiap inisiatifnya.

Suatu ketika, saya berkunjung ke kantor Hokindo di Desa Jeblog, tempat ia mengembangkan usaha pemasaran mesin-mesin produksi untuk UMKM.

Di sana, ia memperlihatkan berbagai mesin tepat guna yang dirancang untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. Saya menyadari bahwa di balik gagasan-gagasannya, ada kebiasaan yang jarang diketahui banyak orang: ia rajin belajar, mencari referensi, dan terus berburu inovasi.

Di bagian dalam kantor, saya melihat berbagai produk UMKM tersusun rapi. Ada keripik pisang, sale, koyah, opak gambir, matari, dan beragam produk lainnya.

“Itu baru sebagian sampel untuk penjajakan pasar luar daerah,” katanya.

Saat itu, saya juga sempat berkonsultasi mengenai produk Toya, sebuah produk komunitas Kalifa berbasis mikroorganisme lokal untuk jamu ternak. Kang Aziz memberikan banyak masukan, mulai dari perbaikan kemasan, penentuan ceruk pasar, hingga strategi pemasaran.

Percakapan singkat itu membuat saya semakin yakin bahwa Kang Aziz bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga memahami persoalan secara detail dan praktis.

Kini, Kang Aziz memang telah tiada. Namun, jejak gagasan, semangat, dan inisiatifnya masih terus hidup di tengah masyarakat.

Ia mengajarkan kepada kita bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir berbeda dan mengambil langkah pertama.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kita membutuhkan lebih banyak sosok seperti Kang Aziz: orang-orang yang tidak hanya mampu melihat masalah, tetapi juga menghadirkan solusi.

Semoga kita semua mampu meneladani semangatnya untuk terus berpikir kreatif, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Semoga engkau damai di Sisi-Nya, Kang Aziz. Gagasanmu akan terus hidup dalam ingatan kami.

*Penulis adalah ketua umum PC PMII Blitar periode 2007-2008, Ketua Perkumpulan Kalifa Society 2010-2013, Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kab. Blitar 2013-2023, Wakil Sekretaris PC IKA PMII Blitar Raya 2022-2027, Kontributor media matablitar.com