MATABLITAR.COM – Kesamben – Persoalan sampah organik sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana: apa yang dilakukan terhadap sisa makanan dan sampah dapur setelah aktivitas rumah tangga selesai. Di Kesamben, Blitar, mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba menawarkan cara sederhana untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Melalui program galon komposter, mahasiswa mengajak masyarakat mengolah sampah organik langsung dari rumah. Bukan sekadar membagikan alat, mereka juga memberikan edukasi mengenai cara membuat, menggunakan, hingga merawat komposter agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Sufi Nur Abdilah Umroni, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM sekaligus bagian dari KKN Berdampak Kelompok 173, mengatakan program tersebut berangkat dari persoalan sampah organik yang masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan fasilitas besar atau lahan yang luas. Justru, perubahan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni rumah masing-masing.

“Pengelolaan sampah tidak harus dimulai dari kegiatan yang besar. Dari rumah pun masyarakat sudah bisa mulai memilah dan mengolah sampah organik,” ujar Sufi.

Konsep galon komposter yang diperkenalkan mahasiswa KKN Kelompok 173 terbilang sederhana. Galon bekas yang sudah tidak digunakan dimanfaatkan kembali dengan sejumlah modifikasi sehingga dapat menjadi wadah pengolahan sampah organik skala rumah tangga.

Sisa sayuran, kulit buah, dan berbagai sampah dapur lainnya dapat dimasukkan ke dalam komposter. Dalam sosialisasi, mahasiswa menjelaskan kepada warga mengenai jenis sampah yang dapat diolah, cara memasukkannya ke dalam galon, serta perawatan selama proses penguraian berlangsung.

Edukasi tersebut menjadi bagian penting dari program. Sebab, keberadaan komposter saja tidak cukup jika masyarakat belum memahami cara menggunakannya.

Warga juga diperkenalkan dengan hasil yang dapat diperoleh dari proses pengomposan, salah satunya air lindi, yakni cairan yang dihasilkan selama proses penguraian bahan organik.

Dengan pengolahan dan pengenceran yang tepat, cairan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk cair untuk tanaman.

“Harapannya, sampah organik yang biasanya hanya dibuang bisa dimanfaatkan kembali. Hasilnya juga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman di pekarangan rumah,” jelas Sufi.

Program tersebut tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Mahasiswa KKN Kelompok 173 melihat adanya potensi ekonomi dari pengelolaan sampah organik apabila dilakukan secara konsisten dan menghasilkan produk dengan kualitas yang baik.

Pupuk cair yang dihasilkan dari proses pengolahan komposter, misalnya, berpeluang dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Gagasan itu sekaligus menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang.

Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna, bahkan berpotensi memberikan nilai ekonomi.

“Selain mengurangi sampah, kami juga ingin masyarakat melihat bahwa hasil pengelolaan sampah sebenarnya bisa dimanfaatkan dan memiliki peluang untuk dikembangkan,” kata Sufi.

Bagi masyarakat, penerapan galon komposter juga relatif mudah karena tidak membutuhkan tempat khusus. Pemanfaatan galon bekas membuat teknologi sederhana tersebut dapat diterapkan dalam skala rumah tangga tanpa membutuhkan biaya besar.

Membentuk Kebiasaan dari Rumah

Bagi mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 UMM, program ini bukan sekadar agenda selama pelaksanaan KKN. Lebih dari itu, mereka ingin pengetahuan yang diberikan dapat terus dipraktikkan masyarakat setelah mahasiswa kembali meninggalkan lokasi pengabdian.

Karena itu, sosialisasi dan edukasi menjadi bagian penting agar warga memiliki kemampuan untuk melanjutkan pengolahan secara mandiri.

Langkah kecil berupa memilah sampah, memasukkan sampah organik ke dalam komposter, dan memanfaatkan hasil penguraiannya diharapkan perlahan menjadi kebiasaan.

Sufi menilai perubahan perilaku memang tidak selalu terjadi secara instan. Namun, kebiasaan baru bisa tumbuh ketika masyarakat memiliki pengetahuan sekaligus sarana yang mudah digunakan.

Melalui program galon komposter, mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 UMM berharap masyarakat Dusun Kesamben dapat semakin peduli terhadap persoalan sampah di lingkungannya.

Dari sebuah galon bekas, mereka mencoba menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan bisa dimulai dari rumah.

Sampah organik yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini memiliki kesempatan untuk kembali memberi manfaat menjadi pupuk, menyuburkan tanaman, dan jika dikelola secara serius, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. (*)