Oleh: Balya Ibnu Malkan**
Di ranah keilmuan pesantren, transmisi pengetahuan tidak pernah hanya bertumpu pada lembaran-lembaran kertas bernuansa kuning semata. Ada dimensi lain yang jauh lebih substansial dalam memelihara kesejarahan, yaitu “sanad laku” atau rantai transmisi keteladanan dan spiritualitas.
Tradisi lisan dan memori kolektif tentang bagaimana seorang kiai bersikap, beribadah, dan berinteraksi sosial sering kali menjadi sumber pelajaran yang lebih hidup dibandingkan sekadar teks tertulis. Sayangnya, memori komunal dari mulut ke mulut ini sangat rentan memudar seiring berpulangnya para santri sepuh yang menjadi saksi sejarah hidup.
Dalam pusaran kegelisahan pelestarian memori komunal inilah, kehadiran buku “Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH Abdul Hamid Chasbullah” menyeruak layaknya oase literasi. Membaca buku ini, kita disuguhkan sebuah tesis penting yang merepresentasikan inti pendidikan pesantren sesungguhnya, “warisan terbesar seorang ulama bukanlah banyaknya karya yang ditinggalkan, melainkan akhlak, ilmu, dan keteladanan yang terus hidup dalam diri murid-muridnya”.
Buku ini merupakan sebuah ikhtiar progresif yang patut diapresiasi tinggi, sebab ia berusaha merawat warisan non-material tersebut menjadi wujud fisik yang otentik dan kini dapat diakses oleh publik luas.
Membicarakan lanskap sejarah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di kawasan Jombang yang menjadi rahim kebangkitan ulama, tidak mungkin melepaskan peran sentral jejaring Pesantren Tambakberas. Di jantung episentrum pergerakan keagamaan inilah sosok KH. Abdul Hamid Chasbullah menorehkan jejak pengabdiannya.
Namun, membaca rekam jejak beliau melalui karya ini membawa kita pada sebuah fenomena paradoks yang elegan. Sebuah corak kepemimpinan yang justru sangat lumrah ditemui pada kiai-kiai khos (kiai utama atau sepuh) di lingkungan Nahdliyin.
Kesan kesederhanaan tersebut memancar kuat seketika kita melihat desain perwajahan sampul buku. Visual potret sang kiai yang menunduk tawadhu dengan raut wajah teduh, berbalut pakaian serba putih yang bersahaja, serta berlatar belakang siluet menara masjid bersejarah yang ikonik, seolah mengonfirmasi secara visual bahwa sang tokoh adalah patron yang membumi.
Seperti yang ditekankan dalam blurb bukunya, di balik dinamika sejarah perjalanan NU, beliau adalah sosok ulama yang pengaruhnya begitu luas, tetapi memilih jalan hidup yang dipenuhi kesederhanaan. KH. Abdul Hamid Chasbullah menampilkan profil kepemimpinan yang menjauhi panggung publisitas yang bising.
Daya tarik dan otoritas beliau murni memancar dari kedalaman ilmu, keikhlasan berkhidmat tanpa pamrih, keluhuran akhlak, serta istiqamah dalam membimbing denyut nadi masyarakat akar rumput.
Dari meja redaksi jurnalistik maupun kajian sosial keislaman, terbitnya “Sendang Winotan” memiliki bobot signifikansi historis yang tak terbantahkan sebagai upaya nyata kodifikasi tradisi lisan pesantren. Selama ini, ragam kisah kekeramatan, laku prihatin (tirakat), hingga amalan-amalan spesifik seorang kiai lebih sering beredar secara organik di warung kopi sekitar madrasah, di serambi masjid kala senja, atau bergema setahun sekali dalam majelis-majelis haul. Melalui buku ini, ingatan kolektif yang berpotensi tercecer itu ditarik menjadi sebuah dokumen historis yang tertata secara sistematis.
Secara anatomis, muatan karya ini menghimpun materi spesifik berupa kisah-kisah inspiratif, nasihat berharga, tuntunan amalan, doa, wirid, hingga laku spiritual KH. Abdul Hamid Chasbullah. Aspek-aspek batiniah yang amat personal ini sebelumnya murni diwariskan dari para murid dan keluarga secara turun-temurun. Tentu harus diakui secara kritis, menyusun buku biografi spiritual dengan basis memori lisan rentan terjebak pada glorifikasi yang berlebihan atau bias subjektivitas dari sang pencerita.
Akan tetapi, karya ini menunjukkan sebuah pendekatan metodologis berlapis yang hati-hati. Keterlibatan banyak pihak di dalam redaksionalnya otomatis berfungsi sebagai mekanisme cross-reference atau validasi tabayyun khas tradisi intelektual pesantren.
Ditulis berdua oleh KH Ainur Rofiq Al-Amin dan KH Muhammad Syifa’ Malik, dengan proses kompilasi naskah yang telaten oleh Ahsani Fathurrohman dan Fathul H. Panatapraja, serta diperkuat oleh sambutan pembuka dari KH Abdurrozaq Sholeh.
Arsitektur kepenulisan yang kolaboratif ini memastikan bahwa setiap riwayat dan sanad amaliyah yang dicantumkan memiliki akar sumber yang jelas, otentik, dan dapat dipertanggungjawabkan secara historis maupun syariat.
Bagi warga jam’iyah Nahdlatul Ulama, literatur semacam ini menyumbangkan daya guna pragmatis yang melampaui batas catatan biografi. Frasa “Sendang Winotan” secara puitis merujuk pada telaga spiritual yang airnya tak pernah surut membasuh dahaga.
Di tengah era peradaban digital yang riuh dan serba pragmatis, lembaran buku ini menjelma menjadi semacam manual amaliyah keseharian yang menenangkan. Kumpulan doa dan wirid di dalamnya adalah pedoman praktis yang relevan diaplikasikan oleh nahdliyin kontemporer untuk menjaga jangkar ketenangan batiniah.
Lebih jauh lagi, literatur kultural semacam ini merupakan referensi penyeimbang yang amat krusial bagi warga NU untuk kembali menjernihkan niat, terkhusus ketika bahtera organisasi tengah menghadapi pusaran momentum skala nasional seperti Muktamar.
Sudah menjadi rahasia umum, diskursus publik menjelang perhelatan besar acapkali terlalu bising oleh manuver politik kebangsaan, kontestasi struktural, dan hitung-hitungan elektoral. “Sendang Winotan” hadir menginterupsi kebisingan tersebut.
Buku ini menjadi pengingat absolut bahwa fondasi penyangga jam’iyah NU diletakkan oleh para ulama linuwih yang hidupnya didedikasikan pada keikhlasan, perkhidmatan sunyi, dan laku tirakat di keheningan malam.
Sebagai konklusi akhir, “Sendang Winotan” berhasil membedah sisi humanisme dan keagungan spiritual dari seorang ulama kharismatik Nusantara secara objektif dan sangat proporsional. Karya ini menawarkan kesegaran moral bagi generasi masa kini.
Munculnya pendokumentasian epik semacam ini sudah sepantasnya memantik kesadaran pesantren-pesantren lain di seluruh penjuru negeri. Membukukan riwayat, jejak, dan pedoman amaliyah para kiai lokal sejatinya adalah strategi kebudayaan tingkat tinggi, sebuah jalan pedang agar perpustakaan peradaban Islam Nusantara tidak sekadar diisi oleh catatan politik dan birokrasi, tetapi dijiwai oleh kelimpahan literatur tasawuf dan keluhuran budi pekerti.
Selamat membaca!
**Santri-Alumni Pondok Pesantren Mansyaul Huda 02, Senori, Tuban.



Tinggalkan Balasan