MATABLITAR.COM – Selembar kertas putih perlahan berubah menjadi penuh warna. Krayon bergerak di tangan anak-anak, menciptakan beragam gambar dengan pilihan warna yang berbeda-beda.

Sebagian anak tampak berani memadukan warna-warna cerah. Sebagian lainnya begitu teliti menggoreskan krayon agar tetap berada di dalam bidang gambar. Di tengah suasana perlombaan, mereka tampak menikmati prosesnya masing-masing.

Pemandangan itu mewarnai Lomba Mewarnai Mamamia Piala Wali Kota Blitar yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar di Graha NU Blitar, Sabtu (29/8/2026).

Lomba tersebut diikuti anak-anak jenjang PAUD, TK, dan RA. Mengangkat tema “Warna-warni Blitarku, Ceria Masa Depanku”, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Harlah ke-10 UNU Blitar.

Harlah satu dekade UNU Blitar tahun ini mengusung tema “Satu Dekade Bertumbuh, Meneguhkan Kearifan Lokal, Mewujudkan Universitas Unggul Berdaya Saing Global.”

Namun, lomba mewarnai itu bukan sekadar tentang siapa yang paling bagus menghasilkan gambar atau membawa pulang piala. Di balik aktivitas sederhana tersebut, UNU Blitar ingin menghadirkan cara yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan dan identitas daerahnya.

Koordinator Lomba Mewarnai Harlah ke-10 UNU Blitar, Dessy Farantika, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenal Blitar melalui aktivitas yang dekat dengan dunia mereka.

“Kami ingin Harlah ke-10 menjadi momentum UNU Blitar untuk terus tumbuh bersama masyarakat. Lomba ini kami hadirkan sebagai ruang yang menyenangkan bagi anak-anak untuk berkreasi sekaligus mengenal Blitar,” ujar Dessy.

Menurutnya, pengenalan kearifan lokal kepada anak-anak tidak harus selalu berlangsung melalui pembelajaran formal di ruang kelas. Pengalaman sederhana seperti menggambar dan mewarnai juga dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan rasa dekat dengan daerah tempat mereka tumbuh.

“Anak-anak bisa belajar dari banyak hal. Melalui gambar dan warna, mereka dapat mengenal lingkungan dan daerahnya sekaligus mengembangkan kreativitas,” katanya.

Lomba tersebut sekaligus mempertemukan anak-anak dari berbagai satuan pendidikan di Blitar. Mereka tidak hanya membawa perlengkapan mewarnai, tetapi juga mendapatkan pengalaman berada dalam satu ruang bersama teman-teman baru.

Bagi anak-anak, suasana perlombaan menjadi pengalaman tersendiri. Ada yang serius menyelesaikan gambar, ada pula yang tampak menikmati setiap goresan warna tanpa terlalu memikirkan hasil akhirnya.

Di sinilah kegiatan mewarnai menemukan makna yang lebih luas. Anak-anak belajar berkonsentrasi, mengekspresikan imajinasi, memilih warna, sekaligus berani menunjukkan hasil karyanya kepada orang lain.

UNU Blitar memberikan apresiasi kepada para peserta yang berhasil meraih juara. Selain memperebutkan Piala Wali Kota Blitar, para pemenang mendapatkan trofi, piagam penghargaan, dan uang pembinaan.

Penghargaan juga diberikan kepada para juara harapan sebagai bentuk apresiasi terhadap keberanian dan kreativitas anak-anak yang mengikuti perlombaan.

Bagi UNU Blitar, lomba mewarnai tersebut menjadi salah satu cara memaknai perjalanan satu dekade kampus. Pertumbuhan perguruan tinggi tidak hanya dapat dilihat dari perkembangan akademik, fasilitas, maupun capaian kelembagaan.

Lebih dari itu, kampus juga dituntut mampu hadir, berinteraksi, dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama. Dalam konteks itulah kearifan lokal menjadi salah satu pijakan perjalanan UNU Blitar.

Blitar memiliki sejarah, budaya, serta karakter masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitas daerah. Mengenalkan kekayaan tersebut kepada generasi muda dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk melalui kegiatan yang sederhana dan menyenangkan. Lomba mewarnai menjadi salah satu ruang tersebut.

Dari selembar kertas putih, anak-anak menuangkan imajinasi mereka. Dari warna-warni krayon, mereka belajar mengenal lingkungan dan daerahnya. Dan dari sebuah perlombaan, mereka mendapatkan pengalaman untuk berkreasi, berani tampil, sekaligus bertemu dengan teman-teman baru.

Pesan itu hadir dengan sederhana. Anak-anak bermain, berkreasi, dan mengenal Blitar. Sementara UNU Blitar terus menapaki usia satu dekade dengan harapan dapat tumbuh bersama masyarakat, tetap berakar pada kearifan lokal, sekaligus menyiapkan generasi kreatif yang siap menghadapi masa depan. (Wj/red)