MATABLITAR.COM – Kesamben – Tawa dan candaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian anak-anak di sekolah. Namun, di balik candaan yang terlihat sederhana, ada kalanya sebuah perkataan atau tindakan justru meninggalkan rasa takut, malu, bahkan luka bagi teman yang menerimanya.

Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 Kesambenverse Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi anti-bullying di SD Negeri Kesamben 02 dan SD Negeri Kesamben 03, Desa Kesamben, Kabupaten Blitar.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk memahami bahwa tidak semua tindakan yang dianggap sebagai candaan dapat diterima oleh orang lain. Sebuah gurauan bisa berubah menjadi perundungan ketika membuat seseorang merasa tertekan, takut, dipermalukan, atau tersakiti.

Ashema Hazuraque Minezwa Ardhani, mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 Kesambenverse UMM, mengatakan sosialisasi dilakukan dengan pendekatan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Menurutnya, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini mengenai batas antara bercanda dan melakukan bullying.

“Anak-anak perlu memahami bahwa sesuatu yang menurut kita lucu belum tentu lucu bagi orang lain. Karena itu, penting untuk melihat dan menghargai perasaan teman,” jelas Ashema.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa mengajak siswa mengenali berbagai bentuk bullying yang dapat terjadi di lingkungan sekolah. Mulai dari perkataan yang mengejek atau merendahkan, tindakan yang menyakiti secara fisik, hingga perilaku tertentu yang membuat seorang anak merasa dikucilkan atau dipermalukan.

Materi tidak disampaikan dalam bentuk ceramah semata. Mahasiswa KKN menghadirkan sejumlah contoh situasi yang dekat dengan keseharian siswa. Dari contoh tersebut, siswa diajak berdiskusi dan menentukan sikap ketika menghadapi atau menyaksikan tindakan perundungan.

Pesan lain yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah keberanian untuk bersikap. Siswa diajak memahami bahwa membiarkan bullying terjadi bukanlah pilihan yang tepat. Mereka juga diingatkan agar tidak ikut mengejek, menertawakan, atau memberikan dukungan kepada teman yang melakukan perundungan.

Bagi siswa yang mengalami bullying, mahasiswa KKN memberikan pemahaman agar tidak menyimpan persoalan tersebut sendirian. Mereka didorong untuk menceritakan apa yang dialami kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya.

Sementara bagi siswa yang menyaksikan bullying, mereka diharapkan tidak menjadi penonton yang justru memperkuat tindakan pelaku.

“Kalau melihat teman mengalami bullying, jangan ikut tertawa atau mendukung. Lebih baik membantu teman dan melaporkannya kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya,” ujar Ashema.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Interaksi dua arah, contoh sederhana, dan pembahasan yang dekat dengan pengalaman anak-anak membuat materi mengenai bullying lebih mudah diterima.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 173, edukasi tersebut bukan sekadar kegiatan penyuluhan. Lebih jauh, mereka ingin menanamkan kebiasaan sederhana kepada siswa untuk saling menghargai, menjaga perkataan, dan memahami perasaan teman.

Sebab, sekolah yang aman tidak hanya dibangun melalui aturan dan pengawasan guru. Lingkungan belajar yang nyaman juga tumbuh dari perilaku sehari-hari para siswa.

Melalui sosialisasi anti-bullying ini, KKN Berdampak Kelompok 173 Kesambenverse UMM berharap siswa SD Negeri Kesamben 02 dan SD Negeri Kesamben 03 semakin peka terhadap lingkungan sosialnya. Pesan yang ingin ditanamkan pun sederhana: bercanda boleh, tetapi jangan sampai membuat orang lain terluka.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 173 UMM dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak-anak di Kesamben, Kabupaten Blitar. (*)