MATABLITAR.COM – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Blitar Raya resmi membuka kegiatan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) III Tahun 2026 dengan tema “Ijtihad PMII Dalam Membangun Nalar Ekologi dan Kedaulatan Kearifan Lokal Blitar”.

Kegiatan direncanakan berlangsung selama lima hari, mulai 11 hingga 15 Juni 2026 tersebut diawali dengan seremoni pembukaan di Balai Kota Koesoemo Wicitra Kota Blitar dan dilanjutkan di Pendopo Islam Nusantara (Pinus), Sekardangan, Kanigoro, Blitar.

Puluhan kader PMII dari berbagai komisariat dan rayon tampak antusias mengikuti pembukaan kaderisasi formal tertinggi di tingkat cabang tersebut. PKL III menghadirkan instruktur dari Pengurus Besar (PB) PMII dan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII yang memiliki kompetensi di bidang kaderisasi dan pengembangan gerakan intelektual.

Ketua PC PMII Blitar Raya, Muhammad Riski Fadila, menegaskan bahwa tema yang diangkat dalam PKL III tahun ini merupakan bentuk respons organisasi terhadap berbagai persoalan ekologis dan sosial yang semakin kompleks di tengah masyarakat.

Menurutnya, krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan alam semata. Kerusakan lingkungan telah berkelindan dengan persoalan ketimpangan sosial, konflik agraria, hingga ancaman terhadap ruang hidup masyarakat kecil.

“PMII harus mampu membaca perubahan zaman secara kritis. Persoalan ekologis hari ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi sudah menjadi persoalan peradaban. Karena itu, kader PMII dituntut memiliki kemampuan intelektual untuk merumuskan paradigma pembangunan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak kepada rakyat,” ujar Fadila.

Ia menjelaskan, Kabupaten dan Kota Blitar saat ini menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius. Mulai dari persoalan limbah, degradasi kawasan sungai, perubahan tata ruang, hingga berkurangnya ruang hijau akibat perkembangan industri dan aktivitas ekonomi yang tidak selalu memperhatikan aspek keberlanjutan.

Di sisi lain, lanjut Fadila, masyarakat Blitar sesungguhnya memiliki kekayaan kearifan lokal yang selama ini menjadi fondasi dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Namun derasnya arus modernisasi perlahan menggeser nilai-nilai tersebut dari kehidupan masyarakat.

“Melalui PKL III ini kami ingin membangun kesadaran kader bahwa perjuangan sosial tidak bisa dipisahkan dari perjuangan ekologis. Kader PMII harus mampu menjadi pelopor gerakan yang menghubungkan nilai-nilai Islam, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan hidup,” tegasnya.

Riski menambahkan, konsep ijtihad yang diusung dalam tema kegiatan tidak hanya dimaknai dalam konteks keagamaan, tetapi juga sebagai proses intelektual untuk membaca realitas sosial dan merumuskan strategi gerakan yang relevan dengan tantangan zaman.

“Kami ingin melahirkan kader yang mampu melakukan pembacaan kritis terhadap persoalan rakyat, memiliki keberanian moral, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan ekologis maupun sosial yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Blitar, Putut Daerobi, memberikan apresiasi atas terselenggaranya PKL III yang dinilainya sebagai momentum penting dalam proses kaderisasi organisasi.

Dalam sambutannya, Putut menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yang mengikuti jenjang kaderisasi tingkat lanjut tersebut. Menurutnya, peserta PKL merupakan kader-kader pilihan yang telah melalui proses panjang dalam organisasi.

“Saya mengapresiasi PC PMII Blitar yang terus konsisten menyelenggarakan kaderisasi. PKL merupakan jenjang kaderisasi formal tertinggi di PMII untuk melahirkan kader pelopor,” ujarnya.

Putut menegaskan bahwa peserta yang hadir dalam forum tersebut merupakan kader-kader terbaik yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.

“Selamat kepada seluruh peserta PKL III. Kalian adalah kader-kader pilihan yang mendapatkan kesempatan untuk memperdalam wawasan, mempertajam analisis, dan memperkuat komitmen perjuangan. Manfaatkan forum ini sebaik mungkin karena tantangan yang dihadapi bangsa ke depan semakin kompleks,” pesannya.

Ia juga berharap para peserta tidak hanya menjadi aktivis organisasi, tetapi mampu tumbuh menjadi intelektual organik yang memiliki keberpihakan terhadap kepentingan rakyat serta mampu menjawab persoalan sosial yang berkembang di daerahnya masing-masing.

Kader PMII diharapkan tidak hanya hadir sebagai pengamat realitas, tetapi juga menjadi pelopor perubahan yang menjembatani tradisi intelektual Islam, semangat kebangsaan, dan perjuangan ekologis demi terwujudnya masyarakat yang adil, berdaulat, dan berkeadaban. (Bin/red)