Di tengah hamparan tanah Pacitan pada tahun 1850 Masehi, lahirlah seorang bayi laki-laki dari keluarga As’ari. Bayi itu diberi nama Muhammad Ro’is. Tidak ada yang menyangka bahwa kelak, anak sederhana dari Desa Arjowinangun tersebut akan menjadi salah satu perintis dakwah Islam yang meninggalkan jejak panjang bagi perkembangan masyarakat di wilayah Blitar.

Sejak kecil, Muhammad Ro’is tumbuh dalam lingkungan religius. Sebagaimana lazimnya keluarga muslim pada masa itu, pendidikan agama menjadi fondasi utama yang ditanamkan kepadanya. Masa mudanya ditempa di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama besar di tanah Jawa.

Di pesantren itulah karakter Muhammad Ro’is dibentuk. Ia tidak hanya belajar membaca kitab-kitab agama, tetapi juga digembleng dengan nilai kesabaran, ketekunan, kemandirian, dan semangat pengabdian. Termas menjadi kawah candradimuka yang menempa dirinya menjadi pribadi yang siap mengemban amanah dakwah.

Ketika beranjak dewasa, muncul kegelisahan dalam hatinya. Ilmu yang telah diperoleh tidak ingin berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang lebih luas. Dari sinilah lahir tekad besar yang kemudian mengubah jalan hidupnya.

Dengan bekal keyakinan yang kuat, Muhammad Ro’is memutuskan meninggalkan kampung halamannya. Ia memilih merantau demi menunaikan panggilan dakwah. Perjalanan yang ditempuh bukanlah perjalanan mudah. Tidak ada kendaraan yang nyaman seperti saat ini. Dengan berjalan kaki, ia menyusuri jalan-jalan panjang, melintasi perbukitan dan lembah, melewati Ponorogo, Trenggalek, hingga Tulungagung.

Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya ke wilayah Blitar. Di Dusun Nglempung, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Muhammad Ro’is sempat menetap untuk beberapa waktu. Selain beristirahat, ia mulai mengenalkan ajaran agama kepada masyarakat sekitar.

Namun, takdir Allah tampaknya telah menyiapkan kisah yang lebih besar di tempat tersebut.

Di Nglempung, Muhammad Ro’is bertemu dengan seorang perempuan bernama Kamsinah, putri Mukit. Dalam pandangannya, perempuan itu bukan sekadar calon pendamping hidup, melainkan sosok yang diyakini mampu menjadi teman seperjuangan dalam menegakkan dakwah. Setelah memohon petunjuk kepada Allah SWT, ia memutuskan menikahi Kamsinah.

Pernikahan itu menjadi awal perjalanan besar yang kelak melahirkan sebuah pusat kehidupan baru.

Bersama sang istri, Muhammad Ro’is melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga tiba di sebuah kawasan terpencil di tepian Sungai Brantas, sekitar 15 kilometer di tenggara Kota Blitar. Tempat itu saat itu masih berupa hutan belantara yang sepi dan minim penghuni. Lokasi tersebut kemudian dikenal sebagai Dukuh Tulungrejo, Desa Jabung.

Di sanalah pasangan muda itu memulai kehidupan dari nol.
Mereka mendirikan sebuah gubuk sederhana sebagai tempat berteduh, beribadah, sekaligus pusat aktivitas dakwah. Kehidupan dijalani dengan penuh kesederhanaan. Hutan dibuka sedikit demi sedikit menjadi lahan pertanian. Dengan tangan mereka sendiri, kawasan yang sebelumnya dipenuhi semak dan satwa liar perlahan berubah menjadi lahan produktif.

Di tengah aktivitas bercocok tanam, Muhammad Ro’is tidak pernah meninggalkan misi utamanya. Bersama warga yang mulai berdatangan, ia mendirikan bangunan sederhana yang digunakan sebagai tempat ibadah dan belajar agama. Dari tempat sederhana itulah cahaya dakwah mulai menyebar.

Nama Muhammad Ro’is perlahan dikenal luas. Banyak orang datang untuk belajar agama dan meminta bimbingan. Semakin hari jumlah penduduk bertambah, aktivitas keagamaan berkembang, dan kawasan yang semula berupa hutan berubah menjadi sebuah perkampungan yang hidup. Kampung itu kemudian dikenal dengan nama Tulungrejo.

Bagi Muhammad Ro’is, membangun masyarakat tidak cukup hanya dengan membuka lahan dan mengajarkan agama kepada warga. Ia juga membangun peradaban melalui keluarga. Dari pernikahannya dengan Kamsinah lahir sepuluh orang putra-putri yang semuanya dididik dengan nilai-nilai keislaman dan akhlak mulia.

Ketika kondisi ekonomi keluarga semakin mapan dan anak-anaknya mulai dewasa, Muhammad Ro’is memutuskan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Ia berangkat bersama putra ketiganya, Subadi, yang kelak dikenal dengan nama Haji Dahlan.

Perjalanan spiritual tersebut menjadi salah satu puncak pengabdiannya kepada Allah SWT. Sepulang dari ibadah haji, Muhammad Ro’is memperoleh nama baru yang kemudian lebih dikenal oleh masyarakat: KH. Abu Bakar As’ari.

Dalam perjalanan pulang menuju tanah air, KH. Abu Bakar As’ari dipanggil menghadap Sang Khalik. Beliau wafat di tengah perjalanan dan dimakamkan di laut pada bulan Muharam. Meskipun jasadnya tidak bersemayam di tanah yang dibangunnya, warisan perjuangan dan dakwahnya tetap hidup hingga hari ini.

Lebih dari satu abad setelah wafatnya, jejak perjuangan KH. Abu Bakar As’ari masih dapat dirasakan. Dakwah yang beliau tanam tumbuh menjadi pohon besar yang menaungi banyak generasi. Anak-cucu dan keturunannya tersebar di berbagai bidang pengabdian, mulai dari guru ngaji, pengasuh pesantren, tokoh masyarakat, anggota legislatif, aparatur sipil negara, prajurit TNI, aktivis organisasi sosial keagamaan, birokrat, pedagang, petani, hingga pengusaha.

Warisan terbesar KH. Abu Bakar As’ari bukanlah bangunan megah atau harta yang melimpah. Warisan itu adalah keteladanan. Ia menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar besar. Kadang-kadang, dakwah bermula dari langkah kaki seorang perantau, sebuah gubuk sederhana di tengah hutan, dan tekad yang tidak pernah padam untuk mengabdi kepada agama serta kemaslahatan umat.

Dari tepian Sungai Brantas, KH. Abu Bakar As’ari telah membuktikan bahwa satu orang yang memiliki keyakinan kuat dapat melahirkan sebuah peradaban yang manfaatnya dirasakan lintas generasi.

Bagi KH. Abu Bakar As’ari, dakwah tidak hanya dilakukan melalui pengajian dan pembinaan masyarakat. Dakwah juga diwujudkan melalui pendidikan keluarga. Bersama Nyai Kamsinah, beliau menanamkan nilai-nilai keislaman, kerja keras, kejujuran, dan pengabdian kepada seluruh putra-putrinya.

Dari rumah sederhana yang berdiri di tepian brantas Tulungrejo Jabung Talun, lahirlah sepuluh orang putra-putri yang kemudian menjadi mata rantai perjuangan keluarga besar Bani Abu Bakar As’ari. Mereka adalah Partinem, H. Abu Yamin, H. Dahlan, H. Wahab, H. Abdul Ghoni, Partiyem, Katiyem, Maemunah, Rubingah, dan H. Irsyad.

Kesepuluh putra-putri tersebut tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai agama dan keteladanan. Mereka kemudian melanjutkan warisan perjuangan orang tua mereka dalam berbagai bentuk pengabdian. Dari generasi inilah lahir keturunan Bani Abu Bakar As’ari yang terus berkiprah untuk agama, bangsa, dan negara.

Keberhasilan KH. Abu Bakar As’ari membangun keluarga yang kokoh menjadi salah satu warisan paling berharga yang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Sebab, selain meninggalkan jejak dakwah di tengah masyarakat, beliau juga mewariskan generasi penerus yang menjaga dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang telah dirintis sejak membuka hutan belantara di tepian Sungai Brantas lebih dari seabad yang lalu. (*)